Summary
Highlights
Struktur kurikulum terdiri dari tiga bagian: kegiatan intrakurikuler (dilakukan secara berdiferensiasi), proyek penguatan profil Pancasila (P5) dengan tema isu terkini, dan kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai minat siswa.
Pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar seperti kualitas dan akses, diperparah oleh learning loss saat pandemi. Kurikulum Merdeka hadir untuk memberikan kebebasan kepada sekolah dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan karakteristik siswa, guna mengembangkan potensi dan minat siswa secara maksimal.
Sekolah tidak langsung diwajibkan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, ada tiga pilihan: tetap menggunakan Kurikulum 2013, menggunakan Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), atau mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.
Kurikulum Merdeka memiliki empat konsep utama: pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skill dan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila; fokus pada materi esensial untuk mendalami kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi; pembelajaran berdiferensiasi sesuai kemampuan siswa; dan pembelajaran yang berfokus pada 4C (kreatif, kritis, komunikasi, kolaborasi) atau keterampilan abad 21.
Di SD, IPA dan IPS digabung menjadi Ipas, tidak ada penjurusan mata pelajaran, dan bahasa Inggris sangat dianjurkan. Di SMP, Informatika wajib dan prakarya menjadi pilihan. Di SMA, tidak ada penjurusan di kelas 10, sementara kelas 11 dan 12 siswa memilih kelompok mata pelajaran (MIPA, IPS, Bahasa, Vokasi). Di SMK, kelompok mata pelajaran menjadi umum dan kejuruan.
Istilah baru yang muncul adalah Capaian Pembelajaran (CP) yang setara dengan KI dan KD pada kurikulum sebelumnya, serta penggunaan fase pembelajaran (Fase A-F) untuk tingkat perkembangan siswa sesuai karakteristik dan potensi.
Guru memerlukan perangkat ajar seperti modul ajar (mirip RPP plus), bahan ajar (buku teks, video), dan modul proyek P5. Semua perangkat ini dapat diunduh gratis dari platform Merdeka Mengajar dan dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah.
Muatan lokal dapat diintegrasikan ke mata pelajaran lain, ke dalam tema P5, atau dikembangkan sebagai mata pelajaran tersendiri dalam kegiatan intrakurikuler, disesuaikan dengan pilihan sekolah.
Penilaian bersifat formatif dan berkelanjutan, tidak ada lagi KKM. Nilai tidak dalam bentuk kuantitatif, kriteria kelulusan ditentukan oleh guru atau satuan pendidikan. Proyek P5 memiliki rapor tersendiri yang terpisah dari rapor hasil pembelajaran intrakurikuler.
Guru memiliki peran penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka, harus adaptif dan fasilitator. Mahasiswa diminta untuk mempelajari materi di platform Merdeka Mengajar, lalu membuat modul ajar dan modul proyek P5 sesuai jenjang dan karakteristik siswa untuk praktik lapangan.