Summary
Highlights
Kang Ipeng dibawa berobat ke seorang Gus. Anehnya, saat pertama kali bertemu Gus, Kang Ipeng merasa ingin berkelahi, namun menjadi tenang setelah diberi air dan selawat. Setelah pulih, Gus menjelaskan bahwa Kang Ipeng hampir menjadi tumbal berikutnya dan pemilik mal adalah pelaku pesugihan. Gus menyarankan Kang Ipeng untuk segera resign karena keselamatannya terancam. Ketika Kang Ipeng ingin resign, pemilik mal mulai merasa jijik padanya.
Rekan-rekan Kang Ipeng juga menjadi korban pesugihan. Seorang driver ojol tewas tersedot eskalator. Komandan Kang Ipeng yang sakit seperti dirinya meninggal karena terserempet bis. Salah satu anggota yang menggantikan Kang Ipeng mengantar sesajen, yang juga diberi motor, akhirnya bunuh diri dengan cara gantung diri di tangga darurat. Orang tua korban menyalahkan Kang Ipeng, namun Kang Ipeng menampiknya. Banyak karyawan lain yang juga mengundurkan diri setelah mengetahui ritual pesugihan yang dilakukan pemilik mal.
Total delapan orang meninggal dunia selama Kang Ipeng bekerja di mal tersebut, terdiri dari tiga sekuriti dan lima orang sipil. Kesemua korban meninggal dengan cara tragis. Owner mal tetap melanjutkan ritual sesajen tiap malam Jumat Kliwon, dan jika gagal mendapatkan tumbal, mal akan kembali sepi. Setelah 8 bulan bekerja, Kang Ipeng akhirnya resign. Tiga bulan kemudian, ia mendapat kabar bahwa mantan komandannya juga bunuh diri di kamar mandi. Kang Ipeng berpesan kepada penonton untuk mencari pekerjaan lain jika mendapati hal-hal janggal yang mengancam ketenangan dan keselamatan, karena Allah akan memberikan pekerjaan yang lebih baik.
Kang Ipeng sebelumnya adalah seorang sekuriti rumah sakit yang tidak tahan melihat darah, sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah menganggur cukup lama, ia mendapat tawaran pekerjaan di sebuah mal yang sepi. Awalnya, tidak ada kejadian aneh, namun Kang Ipeng mulai curiga ketika ada lantai yang kosong dan tidak ada penyewa sama sekali. Setelah beberapa bulan, ia baru tahu bahwa mal tersebut adalah bekas kebakaran hebat yang menewaskan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak.
Pada dinas malam pertamanya, Kang Ipeng mendengar teriakan orang minta tolong karena kebakaran. Namun, komandannya menjelaskan bahwa itu adalah suara-suara dari korban kebakaran masa lalu. Karyawan bioskop di mal itu sering kesurupan. Selain itu, lift di mal sering macet dan menampakkan sosok kuntilanak, membuat pengunjung dan bahkan Kang Ipeng sendiri ketakutan. Kang Ipeng sempat pingsan setelah melihat sosok kuntilanak di lift.
Tiba-tiba, mal yang sepi tersebut mulai ramai pengunjung. Namun, ini dibarengi dengan ritual pesugihan yang dilakukan oleh pemilik mal setiap malam Jumat Kliwon. Kang Ipeng diminta mengantar sesajen ke rooftop dan menyaksikan sendiri ritual telanjang pemilik mal yang memanggil sosok tinggi dan berambut gondrong. Tak lama kemudian, seorang karyawan jatuh dari lantai lima dan meninggal dunia, yang diyakini sebagai tumbal pertama.
Setelah tumbal pertama, mal menjadi semakin ramai. Namun, korban terus berjatuhan. Seorang gadis yang baru lulus SMA meninggal karena terpeleset. Seorang manajer melompat dari lantai atas dan tewas setelah mengambil laptop di malam hari. Kang Ipeng sendiri mulai mengalami keanehan, yaitu gatal-gatal dan kejang-kejang, padahal secara medis ia sehat. Ia juga ditawari motor baru oleh pemilik mal, yang diyakini sebagai upaya untuk menjadikannya tumbal berikutnya.