Summary
Highlights
Gundi Chadi memperkenalkan Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures, yang merupakan salah satu perusahaan modal ventura terbesar di Indonesia dengan lebih dari 200 perusahaan di portofolionya. Roderick memiliki latar belakang pendidikan dari Stanford University dan pengalaman di Silicon Valley.
Roderick menjelaskan bahwa East Ventures baru saja mendapatkan pendanaan baru sebesar 550 juta Dolar AS. Ia juga membahas pernyataan "Winter is Coming" dari co-founder East Ventures, Wilson Chua, yang mengindikasikan perlunya kehati-hatian di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif, inflasi, dan risiko geopolitik.
East Ventures akan tetap berinvestasi pada tahap awal (seed stage) dengan jumlah perusahaan yang lebih banyak, namun alokasi dana terbesar akan berada pada tahap pertumbuhan (growth stage). Strategi ini tidak berubah, dengan fokus utama di Indonesia dan berinvestasi pada founder terbaik.
Roderick menjelaskan evolusi East Ventures sejak didirikan pada tahun 2009. East Ventures adalah salah satu VC pertama di Asia Tenggara dan telah memisahkan dana menjadi tahap awal dan pertumbuhan. Tim East Ventures juga telah berlipat ganda menjadi 60 orang di Jakarta dan Singapura.
Kenaikan suku bunga global dan inflasi menyebabkan koreksi harga aset di berbagai pasar. Roderick mengakui adanya kekhawatiran, namun optimis terhadap ekonomi Indonesia yang tangguh. Penilaian startup juga mulai menyesuaikan, meskipun di Asia Tenggara perubahan belum sedrastis di pasar lain.
IPO GoTo adalah tonggak sejarah penting bagi Indonesia, menunjukkan bahwa pasar lokal cukup besar untuk menampung IPO besar. Meskipun timing IPO sulit, GoTo berhasil membuka jalan bagi perusahaan lain. Roderick menilai bahwa GoTo mengambil jalur yang lebih sulit karena kondisi pasar yang kurang menguntungkan.
Traveloka bangkit dari dampak pandemi dan fokus pada bisnis intinya. Roderick membahas konsep super app, membandingkan model China yang mengintegrasikan layanan dengan model AS yang lebih terpisah. Menurutnya, Traveloka membangun layanan di sekitar bisnis intinya untuk memperkuat posisinya, meskipun pasar super app sangat kompetitif.
East Ventures melihat potensi di berbagai sektor seperti vertical commerce, social commerce, D2C, fintech (lending, credit-tech, investasi, wealth management, insurtech), AgTech, HealthTech, logistik, B2B, dan software. Roderick menyoroti E-commerce, Fintech, dan Logistik/B2B sebagai sektor terbesar saat ini.
Roderick membandingkan pengalamannya di Silicon Valley dengan Indonesia, menyoroti ekosistem yang dibangun di AS dan kesempatan yang lebih besar di Indonesia. Ia merasa beruntung bisa menjadi bagian dari pertumbuhan ekosistem digital Indonesia dan peran aktifnya dalam pengambilan keputusan saat ini.
Perusahaan harus kembali fokus pada bisnis inti dan profitabilitas. Periode ini menjadi pengingat bagi para founder untuk lebih berhati-hati dalam pengeluaran dan memastikan jalur yang jelas menuju keberlanjutan. East Ventures juga mulai mengadopsi kerangka kerja ESG dan menerbitkan laporan keberlanjutan, meskipun tidak memaksakan persyaratan tertentu pada perusahaan portofolio.
East Ventures menjadi sponsor utama Indonesia Open Badminton, sebuah cara untuk berkontribusi pada Indonesia di luar sektor teknologi dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Sebelumnya, mereka juga mendukung olahraga selancar.
Roderick berbagi pandangannya tentang tantangan dan pentingnya istirahat untuk berpikir dengan jernih. Untuk masa depan, ia berharap ekosistem startup semakin berkembang dengan lebih banyak entrepreneur yang berhasil dan menjadi mentor. East Ventures akan terus mendukung para founder dalam perjalanan startup mereka.
Sebagai fund, East Ventures memang bertujuan untuk melakukan exit pada waktunya, baik melalui M&A atau IPO, sejalan dengan tujuan founder. Mereka ingin terus mendukung founder dengan tetap realistis terhadap siklus investasi.