Summary
Highlights
Solusi utama untuk kembali semangat adalah menemukan apa yang kita cari dalam hidup. Seperti masa kecil yang bersemangat untuk sekolah karena bertemu teman, di usia dewasa kita perlu menemukan 'arah' atau 'mimpi' yang menjadi motivasi untuk bangun pagi. Memiliki mimpi, sekalipun kecil, adalah langkah awal untuk mengobarkan semangat. Mimpi memberikan kita tujuan dan dorongan untuk terus melangkah, meskipun belum tentu tercapai sepenuhnya.
Nagu Tejena menjelaskan bahwa kehilangan semangat di usia dewasa itu wajar. Tantangan hidup di usia dewasa jauh lebih kompleks dibandingkan masa kecil, melibatkan pekerjaan, keuangan, keluarga, dan masalah psikologis. Hal ini membuat banyak orang merasa kewalahan.
Tanda-tanda seseorang kehilangan jati diri adalah merasa hampa, tanpa arah, tersesat, dan tidak mengenali diri sendiri. Hal ini bisa bermanifestasi sebagai keseharian yang kosong, tidak ada makna, hilangnya gairah pada hal yang dulu diminati, hingga munculnya kekecewaan atau kebencian terhadap dunia dan orang lain, seringkali diekspresikan di media sosial secara anonim.
Kecemasan (anxiety) muncul ketika kita melihat masa depan, potensi yang bisa kita capai, dan apa yang mungkin salah. Tujuan anxiety adalah mendorong kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar bisa mencapai potensi penuh. Penting untuk mengeksplorasi dan memproses semua perasaan, termasuk kecemasan, bukan hanya perasaan positif. Terkadang, rasa malu juga menghalangi kita untuk mencoba, di mana kita terlalu mementingkan penilaian orang lain dibandingkan penilaian diri sendiri.
Fenomena 'people pleaser' (selalu ingin menyenangkan orang lain) berakar dari ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain, bukan murni untuk kepentingan mereka. Budaya kolektif di Indonesia punya sisi positif (gotong royong) dan negatif (suara individu tenggelam). Pentingnya belajar individualisme yang sehat, yaitu memprioritaskan diri sendiri tanpa merendahkan orang lain, demi mencapai keseimbangan.
Ketika difitnah atau diperlakukan tidak adil, penting untuk berani marah. Amarah adalah emosi untuk mempertahankan diri. Membiarkan diri marah (bukan dengan cara negatif) dan menetapkan batasan (boundaries) adalah langkah untuk memperjuangkan diri sendiri dan menunjukkan apa yang benar atau salah. Ini dapat dimulai dengan berbagi cerita kepada orang terdekat yang dipercaya.
Di tengah gempuran media sosial yang menampilkan personal branding yang 'sempurna', penting untuk menampilkan diri yang 'otentik' dan 'nyata'. Daripada membuat persona ideal yang palsu, lebih baik tunjukkan diri apa adanya dan terus berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri. Orang kini lebih menyukai konten yang 'relatable' dan menunjukkan perjalanan perubahan diri, bukan hanya kesempurnaan. Media sosial memberikan kesempatan untuk berbagi perjalanan dan menginspirasi orang lain.
Oversharing sering terjadi karena banyak hal dalam diri yang ingin diceritakan, namun tidak semua orang memiliki akses yang tepat untuk itu. Konseling dengan psikolog menjadi solusi yang aman dan rahasia untuk memproses 'internal struggle' dan menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Nagu Tejena memberikan nasihat terbaik untuk anak muda 20-an: kalian punya 'kemewahan untuk gagal'. Di usia ini, masih ada banyak energi, waktu, dan kemampuan untuk mengambil risiko besar. Daripada membeli pengakuan, lebih baik membeli pengalaman. Gagal di usia muda adalah pembelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan di usia yang lebih matang.