Summary
Highlights
Perang Dunia II dimulai di Eropa dengan invasi Nazi ke Polandia, diikuti oleh penyerbuan Belanda oleh Jerman. Di Asia, Jepang memulai perang dengan menyerang Pearl Harbor, pangkalan militer Amerika di Pasifik, pada 8 Desember 1941. Jepang kemudian dengan cepat menguasai wilayah di Asia Tenggara. Jepang telah lama mempersiapkan diri untuk menguasai Indonesia karena posisinya yang strategis dan kaya akan sumber daya alam, sebagai bagian dari cita-cita mereka untuk membentuk Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya yang meliputi Jepang, Manchuria, Cina, dan wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya.
Jepang awalnya mencoba jalur diplomasi untuk memperoleh hasil alam Indonesia, namun negosiasi dengan pemerintah Belanda yang diwakili oleh Dr. Van Mook gagal pada tahun 1940 dan 1941. Setelah kegagalan diplomasi, Jepang melancarkan serangan militer. Sebelum serangan, Jepang menyebarkan propaganda melalui Radio Tokyo, menjanjikan pembebasan Indonesia dari penjajahan Barat dan memutarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Propaganda ini mendapatkan simpati dari sebagian besar rakyat Indonesia, meskipun kaum intelektual tetap skeptis.
Jepang menargetkan area penghasil bahan bakar vital di Indonesia. Setelah Singapura jatuh pada 10 Januari 1942, Jepang menduduki Tarakan (Kalimantan Timur), Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, dan Palembang. Hal ini membuka jalan bagi Jepang untuk merebut Pulau Jawa, yang merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Pemerintah Belanda membentuk front ABDACOM (Amerika, British, Dutch, China) yang bermarkas di Bandung untuk menghalau serangan Jepang. Namun, Belanda terjepit antara kepentingan politik dan militer, tidak berani mempersenjatai rakyat karena kekhawatiran kehilangan kendali. Belanda akhirnya memutuskan kebijakan "bumi hangus" dengan menghancurkan fasilitas penting seperti pabrik minyak, pabrik gula, jalan, dan jembatan agar tidak dimanfaatkan oleh Jepang.
Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang di bawah Jenderal Imamura Hitoshi mendarat di tiga titik di Pulau Jawa: Banten, Eratan, dan Kragan. Dengan kekuatan yang jauh lebih besar (100.000-120.000 tentara dibandingkan 40.000 tentara Belanda dan Sekutu), Jepang dengan cepat bergerak. Meskipun Belanda melakukan perlawanan dan kebijakan bumi hangus, Jakarta dan kota-kota lain dengan cepat jatuh ke tangan Jepang. Pada 8 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda menyerahkan diri tanpa syarat kepada Jepang dalam pertemuan di Kalijati, Jakarta, yang menandai berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah kapitulasi, Jepang mengeluarkan maklumat Osamu Seirei Nomor 1 yang menyatakan pemerintahan militer Jepang di Indonesia. Berbeda dengan Belanda, Jepang membentuk tiga pemerintahan militer: Angkatan Darat ke-16 (Rikugun) untuk Jawa dan Madura, Angkatan Darat ke-25 (Rikugun) untuk Sumatera, dan Armada Selatan Kedua (Kaikugun) untuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Struktur pemerintahan militer Jepang ini juga mencakup berbagai departemen dan jawatan.
Jepang melanjutkan sistem pemerintahan sipil lama namun dengan kendali militer Jepang. Mereka mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan semua pegawai dan penduduk mematuhi perintah militer Jepang. Jepang mulai memfokuskan perhatian pada pemuda Indonesia untuk menanamkan cita-cita mereka, membentuk barisan-barisan militer seperti Seinenden, Heiho, dan PETA. Waktu dan kalender juga diganti dengan sistem Jepang (Tarikh Sumera dan tahun 2602). Meskipun pendidikan mengalami kemunduran drastis, bahasa Indonesia berkembang pesat dan digunakan secara luas, sementara bahasa Belanda dilarang.
Di tengah penguatan nasionalisme Indonesia dan kemunduran Jepang dalam Perang Dunia II, Jepang mulai mempertimbangkan pemberian kemerdekaan. Namun, janji kemerdekaan ini seringkali tidak jelas dan hanya untuk wilayah terbatas seperti Jawa, Madura, dan Bali. Hal ini mengecewakan bangsa Indonesia, yang pada akhirnya menyadari bahwa kemerdekaan harus diraih melalui perjuangan sendiri, bukan pemberian.