Summary
Highlights
Pengenalan kembali kursus 'Teknik Konservasi Tanah dan Air' oleh Profesor Rajendra Singh. Pembahasan topik kuliah minggu ini, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah dan dampaknya, serta kaitannya dengan kuliah sebelumnya dan yang akan datang.
Ringkasan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah disederhanakan menjadi C (Iklim), T (Topografi), V (Vegetasi), dan S (Tanah). Sistem ini memudahkan dalam mengingat dan memahami faktor-faktor penting tersebut.
Curah hujan adalah penyebab utama erosi percikan tetesan air hujan, yang melepaskan partikel tanah. Aliran permukaan kemudian mengangkut partikel-partikel yang terlepas ini. Intensitas, jumlah, frekuensi, dan durasi curah hujan sangat menentukan tingkat erosi.
Kombinasi curah hujan, jenis tanah, dan topografi juga mempengaruhi erosi tanah. Contoh lereng bukit menunjukkan bagaimana kualitas tanah, kemiringan, dan vegetasi di berbagai bagian lereng berdampak berbeda pada tingkat infiltrasi dan erosi.
Kecepatan angin menentukan tingkat erosi tanah oleh angin. Angin juga mempengaruhi laju evaporasi dan transpirasi, yang secara tidak langsung berdampak pada rezim air tanah dan dapat mengurangi atau meningkatkan erosi.
Kelembaban dan radiasi matahari mempengaruhi suhu dan memiliki efek tidak langsung pada erosi. Radiasi tinggi dan musim kemarau panjang dapat menyebabkan tanah kering dan partikel tanah yang mudah terlepas.
Tekstur, struktur, dan kandungan bahan organik tanah mempengaruhi pelepasan dan transportasi partikel tanah. Tanah berpasir dan berlumpur lebih mudah terlepas, sedangkan tanah liat lebih tahan erosi tetapi mudah terangkut setelah terlepas.
Derajat dan panjang lereng adalah faktor topografi utama. Peningkatan kemiringan meningkatkan energi kinetik dan kapasitas angkut aliran permukaan, mengakibatkan erosi yang lebih parah. Panjang lereng juga mempengaruhi volume dan kecepatan aliran permukaan.
Tutupan vegetasi yang baik sangat penting dalam mengurangi erosi. Kanopi tanaman mengurangi dampak tetesan hujan, tutupan tanah menyerap energi kinetik, dan sistem akar mengikat tanah, meningkatkan infiltrasi air, dan mengurangi aliran permukaan.
Erosi tanah menyebabkan hilangnya lapisan tanah subur, yang berdampak negatif pada produktivitas tanaman. Pengendapan sedimen di sungai dan waduk mengurangi kapasitasnya, menyebabkan banjir dan mengurangi masa pakai infrastruktur air.
Data menunjukkan tingkat erosi di India bervariasi, dengan tanah gundul memiliki tingkat erosi tertinggi. Sebagian besar lahan di India mengalami degradasi ringan hingga sedang, dan ada area yang sangat terdegradasi yang memerlukan perhatian segera.
Masalah utama meliputi erosi oleh angin dan air, genangan air, salinitas tanah, dan pertanian berpindah. 147 juta hektar di India terpengaruh erosi, dengan 69 juta hektar dalam tahap kritis.
Erosi angin banyak terjadi di Rajasthan, Gujarat, dan Haryana, berbanding terbalik dengan jumlah curah hujan. Sekitar 4 juta hektar lahan di negara ini terkena masalah ngarai dan jurang, yang merupakan tahap lanjutan dari erosi.
Genangan air disebabkan oleh banjir permukaan atau naiknya muka air tanah, mempengaruhi sekitar 8,53 juta hektar di banyak negara bagian. Tanah salin, baik di daerah pedalaman maupun pesisir, mempengaruhi sekitar 5,5 juta hektar.
Pertanian berpindah (jhuming atau metode tebang bakar) adalah praktik tradisional di lereng bukit, terutama di wilayah timur laut India. Praktik ini melibatkan pembukaan hutan, penanaman selama beberapa tahun, lalu berpindah ke lahan baru.