Kesehatan lingkungan kerja industri mencakup derajat kesehatan berbagai komponen lingkungan di area kerja, seperti udara, air, tanah, dan kualitas biologis, yang semuanya memengaruhi kesehatan dan produktivitas pekerja.
Manusia selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan melalui perkembangan industri. Revolusi industri membawa peningkatan produksi namun juga angka kecelakaan kerja yang tinggi. Menurut WHO, kesehatan kerja adalah upaya mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja setinggi-tingginya, dengan menyesuaikan pekerjaan dan manusia.
Fokus utama meliputi mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja, meningkatkan produktivitas serta efisiensi, memperbaiki kondisi lingkungan kerja, dan mengembangkan organisasi serta budaya kerja yang mendukung K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Kesehatan kerja memiliki empat subsistem: promosi kesehatan pekerja, higiene industri (kebersihan lingkungan), ergonomi industri, dan pengembangan organisasi kerja yang mendukung kesehatan. Perusahaan diklasifikasikan berdasarkan fokusnya pada kesehatan (Health) atau keselamatan (Safety).
Penyakit akibat kerja (PAK/Occupational Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor berbahaya di lingkungan kerja, berbeda dengan penyakit karena hubungan kerja (Work-Related Disease) yang melibatkan multifaktor. Sejarah PAK telah tercatat sejak zaman Mesir kuno hingga Revolusi Industri, dengan Bapak Ilmu Kesehatan Kerja, Ramazzini, yang menulis buku tentang penyakit jabatan.
Higiene industri adalah ilmu untuk mengevaluasi dan mengontrol pengaruh lingkungan kerja yang menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan. Tujuan utama K3 industri adalah mencapai derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya dengan kasus kecelakaan kerja seminimal mungkin (Zero Accident) dan meningkatkan efisiensi serta kesejahteraan pekerja.
Daya kerja dipengaruhi oleh keseimbangan beban fisik, mental, sosial, ekonomi, dan budaya. Lingkungan kerja (fisik, kimiawi, biologi, fisiologis, mental psikologis) juga menambahkan beban. Kapasitas kerja bergantung pada keterampilan, kondisi gizi, usia, jenis kelamin, dan ukuran tubuh.
Penyakit akibat kerja dikelompokkan berdasarkan pengaruh faktor fisika (bising, radiasi, suhu), kimia (debu, uap, gas, zat kimia), infeksi, fisiologi (peralatan tidak ergonomis), dan mental psikologis (stres, pekerjaan monoton).
Diagnosa PAK membutuhkan pemeriksaan klinis, penelitian teliti di tempat kerja, wawancara, kuesioner, dan informasi kebiasaan pekerja. Langkah penelitian meliputi riwayat penyakit dan pekerjaan, pemeriksaan klinis, laboratorium (darah, urine, feses), rontgen, dan pemeriksaan kondisi lingkungan kerja.
Metode pengawasan lingkungan kerja melibatkan substitusi bahan, pemeliharaan lingkungan bersih, perubahan proses produksi (ventilasi, exhaust), isolasi proses berbahaya, serta memberikan pelatihan kepada pekerja. Ahli K3 harus mampu mengenal, mengevaluasi, dan menyimpulkan tindakan yang diperlukan untuk mengurangi risiko PAK, serta memahami berbagai aspek lingkungan kerja seperti kimia, fisika, biologi, dan ergonomi.